A. Motivasi Orientalisme
Kedatangan Islam ke Spanyol dan Prancis Selatan mendorong pihak Kristen untuk meredam kekuasaan dan penetrasi Islam di Eropa, maka pada Tahun 800 M kekaisaran Cherlemagne dinobatkan oleh Paus Roma ketika itu untuk menandingi kekuatan Muslim. Maka kemudian peta kekuasaan secara geografis terdiri dari empat pusat kekuasaan: Kekhalifaan Abasiyah dan Byzantium Ortodoks Timur di Timur, dan Kekhalifaan Umayyah dengan penerusnya di Cordova dan Kerajaan Katolik Roma di Latin Barat. Meskipun dalam perjalanan sejarahnya Kerajaan Kristen mengalami kemunduran akibat pertentang satu sama lain, utamanya ketika agama dan pihak gereja kurang mendukung gerakan ilmu pengetahuan, akibatnya pada abad ke 6 sampai 8 M dikenal dengan masa dark age, masa kegelapan dunia Eropa atau Barat. Pada Abad pertengahan yang dimulai pada tahun 1000-an atau abad ke 11 M, masa itu dikenal dengan masa pencerahan, periode ini merupakan kebangkitan Barat terhadap bidang ilmu pengetahuan setelah memiliki keyakinan kuat akan kekuatan nalar dan kemampuan fikir manusia. Kesadaran ini lahir dilatarbelakangi oleh optimisme yang kuat terhadap sejumlah bidang yang berkaitan dengan politik, filsafat, sosial, budaya, dan keagamaan. Optimisme itu membentuk dan mengarahkan kesadaran diri dan aktifitas sebagian besar orang Barat.
Kemajuan Barat atas berbagai bidang mendorongnya untuk mengkaji kebudayaan Timur yang dianggap memiliki nilai eksotis untuk diekplorasi secara ilmiah, baik yang berkaitan dengan teks, atau kajian filologi, hukum Islam maupun orientasi untuk mengenal lebih dekat kebudayaan Timur dan Islam. Ada beberapa motivasi yang membuat orientalis tertarik untuk mengkaji dan mendalami ketimuran dan Islam secara khusus :
1. Motivasi Keagamaan.
Pada abad ke 19 M adalah masa aktifitas misionaris. Perkembangan Islam di Spanyol yang ditandai dengan berdirinya universitas Cordova sebagai kekuatan kemajuan ilmu pengetahuan ketika itu memiliki kekuatan eksotis yang menarik para pendeta dan rahib untuk menuntut ilmu di universitas itu. Diantara pendeta awal yang mendalami studi ketimuran dan Islam adalah “Adelard of Bath” kebangsaan Inggris yang belajar di kota Tur Prancis kemudian ke Andalus. Sekembalinya ke Inggris ia dilantik menjadi penasehat raja Henri. Tapi yang paling menjadi perhatian adalah pendeta Pierrele Aenere (1092-1156) menguasai bahasa Arab dan berusaha menerjemahkan alquran kedalam bahasa Latin. Tujuannya adalah bagaimana Islam mengadopsi etika-etika agama Kristen dalam kehidupan sehari-hari umat Islam, disamping itu adanya keinginan balas dendam atas keberhasilan Islam menguasai sebagian wilayah Eropa.15 Motivasi keagamaan lahir bertujuan untuk kegiatan misionaris dimana para orientalis berusaha menggambarkan image negative terhadap Islam dengan menulis hal-hal yang mendistorsi ajaran-ajaran Islam
2. Motivasi Imprealisme dan Politik
Motivasi ini timbul akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang dicapai oleh dunia Barat. Ekspedisi Napoleon Bonaparte telah mengispirasi mereka untuk melalukan ekspedisi selanjutnya. Dunia Timur, yang umumnya kawasan timur tengah yang kaya akan sumber daya alam, minyak dan gas bumi menjadi daya tarik Barat untuk mengekploitasi kekayaan tersebut. Satu persatu kawasan Timur tengah dikuasai dan dijajah oleh Barat. Inggris, Italia, Jerman, dan Prancis merupakan Negara-negara Eropa (Barat) yang menjajah kawasan timur tengah itu. Kajian orientalisme tentang Islam pada masa ini erat kaitannya dengan tujuan imprealisme Barat, sehingga sedikit banyaknya tulisan-tulisan mereka mendekripsikan hal-hal yang negative tentang Islam.
Tujuannya untuk memandulkan vitalitas berfikir ulama dan para pakar Islam dalam membendung Imprealisme Barat. Setiap kajian dan tulisan yang mencoba mengobarkan semangat patriotism dan mencoba mendiskreditkan penjajah, maka akan dipenjara dan dipanjung atau kalau tidak diasingkan.
3. Motivasi Ilmiah
Motivasi ini timbul karena dorongan keingintahuan Barat tentang dunia Timur dan ajaran Islam dengan cara sistematis dan metodologis. Orientalisme yang melakukan langkah ini adalah orientalisme yang berasal dari Jerman. Sebagian peneliti menganggap bahwa para orientalis Jerman cenderung mengkaji Timur dan Islam secara obyektif, mereka mengkaji kebudayaan, adat istiadat, dan bahasa Arab, meskipun sebagian peneliti juga berpendapat bahwa tujuan orientalisme Jerman mengkaji Islam karena misi keagaamaan, seperti yang dilakukan oleh para orientalis Barat lainnya, sebab untuk pertama kali bangsa Jerman berhubungan dengan dunia Timur adalah melalui perang Salib. Dan kajian-kajian orientalis Jerman terhadap dunia Islam berlangsung pada paru pertama abad 18 M. Menurut Said, kualifikasi kajian akademik yang dilakukan oleh orientalis dalam bentuk meneliti tentang berbagai ketimuran dalam bidang Antropologi, Sosiologi, Sejarah, Filologi, Agama, dan sebagainya. Dalam kualifikasi ini dapat dilihat produk ilmiah yang dihasilkan dalam jumlah yang besar.
Diantara karyakarya ilmiah yang dihasilkan oleh orientalis dalam bidang keagamaan, seperti mentahqiq kitab “Mu’jam alMufarras li al-Fadzil al-Hadis” kategori merangkum hadis-hadis Nabi dalam indeks dengan metodologi ilmiah. Pandangan-pandangan Barat tentang Islam dan dunia Timur mulai membaik dan positif terjadi antara tahun 1120-1291 M. Disebutkan beberapa akademisi Barat, seperti, William dari Malmesbury, memberikan pandangan bahwa Islam merupakan agama monoteisme yang mempercayai Muhammad sebagai Rasul, bukan Tuhan. Hal yang sama juga diperlihatkan oleh Peter Venerabilis yang menaruh perhatian besar terhadap Islam dan membentuk team untuk menerjemahkan alquran ke dalam bahasa Latin. Juga William dari Rubroek yang menyatakan bahwa kristen dan Islam setuju dalam persoalan fundamental, khususnya tentang akidah yang mengakui keesaan Tuhan.
B. Priodeisasi Orientalisme
Garapan orientalisme dimulai dengan mempelajari bahasa arab dan islam serta berujung – setelah perluasan kolonialis barat di Timur – pada studi seluruh agama –agama timur, adat istiadat, peradaban, geografi, dan tradisi-tradisi serta penguasaan bahasa yang paling populer digunakan bangsa timur. (Ghirah, 2007) Secara pasti tidak dapat diketahui lahirnya orientalisme, namun menurut Hayat Muhammad lahirnya tersebut adalah pergesekan orang-orang islam dengan orang-orang romawi dalam perang mut’ah dan perang tabuk yang menurut Dr. Husain Haikal pada hari itu orang-orang islam berhadapan dengan kaum kristen dalam permusuhan politik. (Assamurai, 1996)
Berbagai spekulasi para ilmuan terkait ketertarikan barat mempelajari timur, namun tidak dapat dipungkiri dalam memperlajari timur, islam tetap menjadi pembahasan paling menarik. dari sejarah hingga teologinya, islam selalu menjadi alasan bagi orientalis untuk meruntuhkan ajaranya, karena kejayaan islam di eropa utamanya di spanyol berkembang pesat. maka berbagai cara mereka lakukan untuk melemahkannya, dari mulai masuk dari sektor keagamaan, penjajahan, bisnis, politik dan ilmu pengetahuan.
1. Priode Orientalisme
a. Zaman purbakala
Kajian sejarah menunjukkan, bahwa benturan memperebutkan wilayah kekuasa menyebabkan pecahnya perang yang berkepanjangan antara grik kuno dengan dinasti Aceaminids (600-330 SM) dari emperium persia, sejak pemerintahan Cyrus The Great (500-530 SM) hingga raja-raja persia turunanya.
b. Perang salib (1096-1270
Tahun 968 M, daulah fathimiah (909- 1171 M) terbentuk di Tunisia, dan menguasai wilayah Mesir dari tangan Daulah Abbasyiah, suatu Daulah Fatimiah dibawah khalifah Muiz lidinilllah (952-975 M), dibangun ibukota al-qahiroh dan perguruan tinggi al-azhar dengan kurikulum berdasarkan faham syiah. (Bukhari, 2006) Sejak kota yarussalem ada dibaawah kekuasaan daulah fatimiah berlaku tekanan terhadap orang-orang kristen yang berziarah.
Kasus itulah yang dijadikan pembangkit dendam lamoleh paus urban II vatikan (1088-1099 M), dijadikan pembakaran orang-orang dan raja-raja kristen di eropa untuk melakukan perang suci (holy war)untuk merebut yarussalem dari kaum muslimin Tahun 968 M, Daulah Fatimiah (909- 1171 M) terbentuk di tunisia dan menguasi wilayah mesir dari tangan daulah abbasiyah, sewaktu daulah fathimiah dibawah khalifah muiz lidnillah (952-975 M), dibangun ibu kota Al- Qahirah kairo dan perguruan tinggi Al- Azhar dengan kurikulum berdasarkan paham syiah. Al- Azhar didirikan untuk menandingi perguruann Sunni. Selanjutnya daulah fathimiah menguasai palestina dan syiria. Sementara itu, jerussalem dikuasai umat islam tahun 636 M, tetap merupakan kota suci bagi tiga agama, yaitu yahudi, kristen dan islam yang selalu berziarah kekota tersebut.
Sejak kota jerussalem berada dibawah kekuasaan daulah fathimiah berlaku tekanan terhadap orang- orang kristen yang berziarah. Kasus itu itulah yang dijadikan pembangkit dendam lama yang oleh paus urban VII Vatikan (1088- 1099), dijadikan pembakar kemarahan orang- orang dan raja- raja kristen di eropa untuk melakukan perang suci (holy war) untuk merebut jerussalem dari tangan kaum muslimin. Itulah yang disebut ‘perang salib’ berlangsung hampir dua abad dan penyerbuan delapan kaliangkatan salib. Pasca perang salib inilah maraknya orientalisme.
Ø Angkatan Salib I (1096- 1099M)
Ø Angkatan Salib II (1147-1149M)
Ø Angkatan Salib III (1189- 1192 M)
Ø Angkatan Salib IV (1202- 1204 M)
Ø Angkatan Salib V (1218- 1221 M)
Ø Angkatan Salib VI (1228-1229 M)
Ø Angkatan Salib VII ( 1248- 1254 M)
Ø Angkatan Salib VIII dan terakhir (1270- 1271M)
Dampak Perang Salib sangat mempengaruhi dalam bidang budaya dan intelektual. Sejak abada VII M, Islamlah yang memasuki wilayah Kristen dari Asia kecil sampai semenanjung Italia dan Iberia (spanyol/ portugal) serta wilayah selatan prancis. Sebelumnya, orang Eropa yang mengunjungi wilayah kekuasaaan islam, bersifat perorangan , tetapi selama perang salib, mereka datang jumlah besar sampai ratusan ribu setiap angkatan, dari rakyat biasa hingga kaum bangsawan. Disana mereka mulai mengalami perubahan yang pesat dimulai dari industri perdagangan terutama didaerah Venesia dan Genoa lewat pelabuhan dagang Laut Tengah.
Perang salib merupakan faktor yang mendorong majunya peradaban didunia barat, sembari mempelajari dunia islam merekapun mengadopsi kemajuan yang diraih islam sebelumnya.
c. Abad Pertengahan
(Renaissance)Sikap orang arab terhadap islam pada abad pertengahan adalah sikap orang yang kagum bercampur perasaan hormat dan segan terhadap kekuatan islam serta peradabannya. Perasaan takut menyelubungi mereka sepanjang abad pertengahan itu. mereka menganggap islam sebagai satu bahaya hakiki bagi eropa, baik aqidafh, peradaban, serta kekuatan militer.
Sejak awal abad I hijriyah, kekuasaan islam benar-benar telah mencapai kesempurnaan dan menyeluruh, meliputi kekuatan politik, militer, pendidikan, kebudayaan dan kerohaniaan. Keadaan itu semakin berkembang hingga abad III hijriyah umat islam telah melakukan berbagai negeri yang mempunyai potensi sangat berarti. Penaklukan itu tidak hanya penaklukkan militer, tetapi meliputi pula penaklukkan aqidah dan peradabaan.
Bangsa eropa menyaksikan perkembangan islam ini masa dalam keadaan bodoh dan terbelakang sampai pada abad ke 1096-1270 bangsa barat mengadaakan perlawanan dengan perang salib. Dalam menggerakkan penaklukkan islam periode ke II kaum muslim dapat menaklukkan konstantinopel pada tahun 1453 M.
d. Abad Modern
Akibat kekalahan menghadapi serangan peradaban barat, serta rekayasa orientalisme terhadap keinginan mereka untuk menghancurkan islam dan kaum muslimin, maka sebagian dari cendikiawan muslim berusaha membela para orientalis umumnya dan para para oerintalis abad modern khususnya mereka berusaha menampakan potret orientalis modern yang dianggap berbeda dengan orientalis abad pertengahan dan era kebangkitan yang sangat dikenal dengan kefanatikan serta gigihnya memusuhi islam dan kaum muslimin.
Dalam kurun abad XIX M, bangsa barat masehi telah berhasil menguasai wilayah-wilayah islam secara bertahap. Belum lagi abad XX M berakhir, seluruh islam di Afrika dan Asia telah dapat dikuasai penjajah khususnya klonial inggris, Francis, dan Belanda. Dalam waktu bersamaan waktu yang bersamaan, tumbuhlah gerakan orientalisme di wilayah barat dengan pertumbuhan yang luar biasa sejalan dengan berkembanganya kolonialisme. Karena pesatnya perkembanagan gerakan ini mengambil jalur akademik, yang menyebar lewat universitas, lembaga-lembaga pendidikan non-formal, lembaga studi dan riset serta publikasi.
KESIMPULAN
A. Motivasi Orientalisme
Kedatangan Islam ke Spanyol dan Prancis Selatan mendorong pihak Kristen untuk meredam kekuasaan dan penetrasi Islam di Eropa, maka pada Tahun 800 M kekaisaran Cherlemagne dinobatkan oleh Paus Roma ketika itu untuk menandingi kekuatan Muslim. Maka kemudian peta kekuasaan secara geografis terdiri dari empat pusat kekuasaan: Kekhalifaan Abasiyah dan Byzantium Ortodoks Timur di Timur, dan Kekhalifaan Umayyah dengan penerusnya di Cordova dan Kerajaan Katolik Roma di Latin Barat.
Ø Motivasi Keagamaan
Ø Motivasi Imprealisme dan Politik
Ø Motivasi Ilmiah
B. Priode Orientalisme
Ø Zaman purbakala
Ø Perang salib (1096-1270
Ø Abad Pertengahan
Ø Abad Pertengahan
DAFTAR
PUSTAKA
Abu Su’ud, Islamologi, Sejarah, Ajaran,
dan Peranannya dalam Peradaban
Umat Manusia. Cet. I; Jakarta: Rineka
Cipta, 2003
Arif, Syamsuddin, Orientalisme dan
Diabolisme Pemikiran, Cet. I; Jakarta: Gema Insani, 2008
Esposito, John L, Ensiklopedi Oxford,
Dunia Islam Modern, Jilid IV (Cet. I; Bandung: Mizan, 2001
Husain, Adian, Hegemoni Kristen-Barat
dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi. Cet. I; Jakarta: Gema Insani, 2006
Januri, Muhammad Fauzan, dkk, Dialog
Pemikiran Timur dan Barat. Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 2011 Mahmud, Nasir,
Orientalisme, Alquran di Mata Barat, Sebuah Studi Evaluatif.
Cet. I; Semarang: Dina Utama Semarang,
T.th Schumann, Olaf, Agama dan Dialog Antar Peradaban, Cet. I; Paramadina,
Jakarta, 1996
https://media.neliti.com/media/publications/285438-kajian-hukum-islam-perspektif-orientalis-ff29c943.pdf
https://anshorylubis.blogspot.com/2018/05/periodesasi-dan-motif-orientalisme.html
Potoutusan Group
May 11, 2022
CB Blogger
Indonesia
MAKALAH MOTIVASI DAN PERIODEIASI GERAKAN ORIENTALISME
A. Motivasi Orientalisme
Kedatangan Islam ke Spanyol dan Prancis Selatan mendorong pihak Kristen untuk meredam kekuasaan dan penetrasi Islam di Eropa, maka pada Tahun 800 M kekaisaran Cherlemagne dinobatkan oleh Paus Roma ketika itu untuk menandingi kekuatan Muslim. Maka kemudian peta kekuasaan secara geografis terdiri dari empat pusat kekuasaan: Kekhalifaan Abasiyah dan Byzantium Ortodoks Timur di Timur, dan Kekhalifaan Umayyah dengan penerusnya di Cordova dan Kerajaan Katolik Roma di Latin Barat. Meskipun dalam perjalanan sejarahnya Kerajaan Kristen mengalami kemunduran akibat pertentang satu sama lain, utamanya ketika agama dan pihak gereja kurang mendukung gerakan ilmu pengetahuan, akibatnya pada abad ke 6 sampai 8 M dikenal dengan masa dark age, masa kegelapan dunia Eropa atau Barat. Pada Abad pertengahan yang dimulai pada tahun 1000-an atau abad ke 11 M, masa itu dikenal dengan masa pencerahan, periode ini merupakan kebangkitan Barat terhadap bidang ilmu pengetahuan setelah memiliki keyakinan kuat akan kekuatan nalar dan kemampuan fikir manusia. Kesadaran ini lahir dilatarbelakangi oleh optimisme yang kuat terhadap sejumlah bidang yang berkaitan dengan politik, filsafat, sosial, budaya, dan keagamaan. Optimisme itu membentuk dan mengarahkan kesadaran diri dan aktifitas sebagian besar orang Barat.
Kemajuan Barat atas berbagai bidang mendorongnya untuk mengkaji kebudayaan Timur yang dianggap memiliki nilai eksotis untuk diekplorasi secara ilmiah, baik yang berkaitan dengan teks, atau kajian filologi, hukum Islam maupun orientasi untuk mengenal lebih dekat kebudayaan Timur dan Islam. Ada beberapa motivasi yang membuat orientalis tertarik untuk mengkaji dan mendalami ketimuran dan Islam secara khusus :
1. Motivasi Keagamaan.
Pada abad ke 19 M adalah masa aktifitas misionaris. Perkembangan Islam di Spanyol yang ditandai dengan berdirinya universitas Cordova sebagai kekuatan kemajuan ilmu pengetahuan ketika itu memiliki kekuatan eksotis yang menarik para pendeta dan rahib untuk menuntut ilmu di universitas itu. Diantara pendeta awal yang mendalami studi ketimuran dan Islam adalah “Adelard of Bath” kebangsaan Inggris yang belajar di kota Tur Prancis kemudian ke Andalus. Sekembalinya ke Inggris ia dilantik menjadi penasehat raja Henri. Tapi yang paling menjadi perhatian adalah pendeta Pierrele Aenere (1092-1156) menguasai bahasa Arab dan berusaha menerjemahkan alquran kedalam bahasa Latin. Tujuannya adalah bagaimana Islam mengadopsi etika-etika agama Kristen dalam kehidupan sehari-hari umat Islam, disamping itu adanya keinginan balas dendam atas keberhasilan Islam menguasai sebagian wilayah Eropa.15 Motivasi keagamaan lahir bertujuan untuk kegiatan misionaris dimana para orientalis berusaha menggambarkan image negative terhadap Islam dengan menulis hal-hal yang mendistorsi ajaran-ajaran Islam
2. Motivasi Imprealisme dan Politik
Motivasi ini timbul akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang dicapai oleh dunia Barat. Ekspedisi Napoleon Bonaparte telah mengispirasi mereka untuk melalukan ekspedisi selanjutnya. Dunia Timur, yang umumnya kawasan timur tengah yang kaya akan sumber daya alam, minyak dan gas bumi menjadi daya tarik Barat untuk mengekploitasi kekayaan tersebut. Satu persatu kawasan Timur tengah dikuasai dan dijajah oleh Barat. Inggris, Italia, Jerman, dan Prancis merupakan Negara-negara Eropa (Barat) yang menjajah kawasan timur tengah itu. Kajian orientalisme tentang Islam pada masa ini erat kaitannya dengan tujuan imprealisme Barat, sehingga sedikit banyaknya tulisan-tulisan mereka mendekripsikan hal-hal yang negative tentang Islam.
Tujuannya untuk memandulkan vitalitas berfikir ulama dan para pakar Islam dalam membendung Imprealisme Barat. Setiap kajian dan tulisan yang mencoba mengobarkan semangat patriotism dan mencoba mendiskreditkan penjajah, maka akan dipenjara dan dipanjung atau kalau tidak diasingkan.
3. Motivasi Ilmiah
Motivasi ini timbul karena dorongan keingintahuan Barat tentang dunia Timur dan ajaran Islam dengan cara sistematis dan metodologis. Orientalisme yang melakukan langkah ini adalah orientalisme yang berasal dari Jerman. Sebagian peneliti menganggap bahwa para orientalis Jerman cenderung mengkaji Timur dan Islam secara obyektif, mereka mengkaji kebudayaan, adat istiadat, dan bahasa Arab, meskipun sebagian peneliti juga berpendapat bahwa tujuan orientalisme Jerman mengkaji Islam karena misi keagaamaan, seperti yang dilakukan oleh para orientalis Barat lainnya, sebab untuk pertama kali bangsa Jerman berhubungan dengan dunia Timur adalah melalui perang Salib. Dan kajian-kajian orientalis Jerman terhadap dunia Islam berlangsung pada paru pertama abad 18 M. Menurut Said, kualifikasi kajian akademik yang dilakukan oleh orientalis dalam bentuk meneliti tentang berbagai ketimuran dalam bidang Antropologi, Sosiologi, Sejarah, Filologi, Agama, dan sebagainya. Dalam kualifikasi ini dapat dilihat produk ilmiah yang dihasilkan dalam jumlah yang besar.
Diantara karyakarya ilmiah yang dihasilkan oleh orientalis dalam bidang keagamaan, seperti mentahqiq kitab “Mu’jam alMufarras li al-Fadzil al-Hadis” kategori merangkum hadis-hadis Nabi dalam indeks dengan metodologi ilmiah. Pandangan-pandangan Barat tentang Islam dan dunia Timur mulai membaik dan positif terjadi antara tahun 1120-1291 M. Disebutkan beberapa akademisi Barat, seperti, William dari Malmesbury, memberikan pandangan bahwa Islam merupakan agama monoteisme yang mempercayai Muhammad sebagai Rasul, bukan Tuhan. Hal yang sama juga diperlihatkan oleh Peter Venerabilis yang menaruh perhatian besar terhadap Islam dan membentuk team untuk menerjemahkan alquran ke dalam bahasa Latin. Juga William dari Rubroek yang menyatakan bahwa kristen dan Islam setuju dalam persoalan fundamental, khususnya tentang akidah yang mengakui keesaan Tuhan.
B. Priodeisasi Orientalisme
Garapan orientalisme dimulai dengan mempelajari bahasa arab dan islam serta berujung – setelah perluasan kolonialis barat di Timur – pada studi seluruh agama –agama timur, adat istiadat, peradaban, geografi, dan tradisi-tradisi serta penguasaan bahasa yang paling populer digunakan bangsa timur. (Ghirah, 2007) Secara pasti tidak dapat diketahui lahirnya orientalisme, namun menurut Hayat Muhammad lahirnya tersebut adalah pergesekan orang-orang islam dengan orang-orang romawi dalam perang mut’ah dan perang tabuk yang menurut Dr. Husain Haikal pada hari itu orang-orang islam berhadapan dengan kaum kristen dalam permusuhan politik. (Assamurai, 1996)
Berbagai spekulasi para ilmuan terkait ketertarikan barat mempelajari timur, namun tidak dapat dipungkiri dalam memperlajari timur, islam tetap menjadi pembahasan paling menarik. dari sejarah hingga teologinya, islam selalu menjadi alasan bagi orientalis untuk meruntuhkan ajaranya, karena kejayaan islam di eropa utamanya di spanyol berkembang pesat. maka berbagai cara mereka lakukan untuk melemahkannya, dari mulai masuk dari sektor keagamaan, penjajahan, bisnis, politik dan ilmu pengetahuan.
1. Priode Orientalisme
a. Zaman purbakala
Kajian sejarah menunjukkan, bahwa benturan memperebutkan wilayah kekuasa menyebabkan pecahnya perang yang berkepanjangan antara grik kuno dengan dinasti Aceaminids (600-330 SM) dari emperium persia, sejak pemerintahan Cyrus The Great (500-530 SM) hingga raja-raja persia turunanya.
b. Perang salib (1096-1270
Tahun 968 M, daulah fathimiah (909- 1171 M) terbentuk di Tunisia, dan menguasai wilayah Mesir dari tangan Daulah Abbasyiah, suatu Daulah Fatimiah dibawah khalifah Muiz lidinilllah (952-975 M), dibangun ibukota al-qahiroh dan perguruan tinggi al-azhar dengan kurikulum berdasarkan faham syiah. (Bukhari, 2006) Sejak kota yarussalem ada dibaawah kekuasaan daulah fatimiah berlaku tekanan terhadap orang-orang kristen yang berziarah.
Kasus itulah yang dijadikan pembangkit dendam lamoleh paus urban II vatikan (1088-1099 M), dijadikan pembakaran orang-orang dan raja-raja kristen di eropa untuk melakukan perang suci (holy war)untuk merebut yarussalem dari kaum muslimin Tahun 968 M, Daulah Fatimiah (909- 1171 M) terbentuk di tunisia dan menguasi wilayah mesir dari tangan daulah abbasiyah, sewaktu daulah fathimiah dibawah khalifah muiz lidnillah (952-975 M), dibangun ibu kota Al- Qahirah kairo dan perguruan tinggi Al- Azhar dengan kurikulum berdasarkan paham syiah. Al- Azhar didirikan untuk menandingi perguruann Sunni. Selanjutnya daulah fathimiah menguasai palestina dan syiria. Sementara itu, jerussalem dikuasai umat islam tahun 636 M, tetap merupakan kota suci bagi tiga agama, yaitu yahudi, kristen dan islam yang selalu berziarah kekota tersebut.
Sejak kota jerussalem berada dibawah kekuasaan daulah fathimiah berlaku tekanan terhadap orang- orang kristen yang berziarah. Kasus itu itulah yang dijadikan pembangkit dendam lama yang oleh paus urban VII Vatikan (1088- 1099), dijadikan pembakar kemarahan orang- orang dan raja- raja kristen di eropa untuk melakukan perang suci (holy war) untuk merebut jerussalem dari tangan kaum muslimin. Itulah yang disebut ‘perang salib’ berlangsung hampir dua abad dan penyerbuan delapan kaliangkatan salib. Pasca perang salib inilah maraknya orientalisme.
Ø Angkatan Salib I (1096- 1099M)
Ø Angkatan Salib II (1147-1149M)
Ø Angkatan Salib III (1189- 1192 M)
Ø Angkatan Salib IV (1202- 1204 M)
Ø Angkatan Salib V (1218- 1221 M)
Ø Angkatan Salib VI (1228-1229 M)
Ø Angkatan Salib VII ( 1248- 1254 M)
Ø Angkatan Salib VIII dan terakhir (1270- 1271M)
Dampak Perang Salib sangat mempengaruhi dalam bidang budaya dan intelektual. Sejak abada VII M, Islamlah yang memasuki wilayah Kristen dari Asia kecil sampai semenanjung Italia dan Iberia (spanyol/ portugal) serta wilayah selatan prancis. Sebelumnya, orang Eropa yang mengunjungi wilayah kekuasaaan islam, bersifat perorangan , tetapi selama perang salib, mereka datang jumlah besar sampai ratusan ribu setiap angkatan, dari rakyat biasa hingga kaum bangsawan. Disana mereka mulai mengalami perubahan yang pesat dimulai dari industri perdagangan terutama didaerah Venesia dan Genoa lewat pelabuhan dagang Laut Tengah.
Perang salib merupakan faktor yang mendorong majunya peradaban didunia barat, sembari mempelajari dunia islam merekapun mengadopsi kemajuan yang diraih islam sebelumnya.
c. Abad Pertengahan
(Renaissance)Sikap orang arab terhadap islam pada abad pertengahan adalah sikap orang yang kagum bercampur perasaan hormat dan segan terhadap kekuatan islam serta peradabannya. Perasaan takut menyelubungi mereka sepanjang abad pertengahan itu. mereka menganggap islam sebagai satu bahaya hakiki bagi eropa, baik aqidafh, peradaban, serta kekuatan militer.
Sejak awal abad I hijriyah, kekuasaan islam benar-benar telah mencapai kesempurnaan dan menyeluruh, meliputi kekuatan politik, militer, pendidikan, kebudayaan dan kerohaniaan. Keadaan itu semakin berkembang hingga abad III hijriyah umat islam telah melakukan berbagai negeri yang mempunyai potensi sangat berarti. Penaklukan itu tidak hanya penaklukkan militer, tetapi meliputi pula penaklukkan aqidah dan peradabaan.
Bangsa eropa menyaksikan perkembangan islam ini masa dalam keadaan bodoh dan terbelakang sampai pada abad ke 1096-1270 bangsa barat mengadaakan perlawanan dengan perang salib. Dalam menggerakkan penaklukkan islam periode ke II kaum muslim dapat menaklukkan konstantinopel pada tahun 1453 M.
d. Abad Modern
Akibat kekalahan menghadapi serangan peradaban barat, serta rekayasa orientalisme terhadap keinginan mereka untuk menghancurkan islam dan kaum muslimin, maka sebagian dari cendikiawan muslim berusaha membela para orientalis umumnya dan para para oerintalis abad modern khususnya mereka berusaha menampakan potret orientalis modern yang dianggap berbeda dengan orientalis abad pertengahan dan era kebangkitan yang sangat dikenal dengan kefanatikan serta gigihnya memusuhi islam dan kaum muslimin.
Dalam kurun abad XIX M, bangsa barat masehi telah berhasil menguasai wilayah-wilayah islam secara bertahap. Belum lagi abad XX M berakhir, seluruh islam di Afrika dan Asia telah dapat dikuasai penjajah khususnya klonial inggris, Francis, dan Belanda. Dalam waktu bersamaan waktu yang bersamaan, tumbuhlah gerakan orientalisme di wilayah barat dengan pertumbuhan yang luar biasa sejalan dengan berkembanganya kolonialisme. Karena pesatnya perkembanagan gerakan ini mengambil jalur akademik, yang menyebar lewat universitas, lembaga-lembaga pendidikan non-formal, lembaga studi dan riset serta publikasi.
KESIMPULAN
A. Motivasi Orientalisme
Kedatangan Islam ke Spanyol dan Prancis Selatan mendorong pihak Kristen untuk meredam kekuasaan dan penetrasi Islam di Eropa, maka pada Tahun 800 M kekaisaran Cherlemagne dinobatkan oleh Paus Roma ketika itu untuk menandingi kekuatan Muslim. Maka kemudian peta kekuasaan secara geografis terdiri dari empat pusat kekuasaan: Kekhalifaan Abasiyah dan Byzantium Ortodoks Timur di Timur, dan Kekhalifaan Umayyah dengan penerusnya di Cordova dan Kerajaan Katolik Roma di Latin Barat.
Ø Motivasi Keagamaan
Ø Motivasi Imprealisme dan Politik
Ø Motivasi Ilmiah
B. Priode Orientalisme
Ø Zaman purbakala
Ø Perang salib (1096-1270
Ø Abad Pertengahan
Ø Abad Pertengahan
DAFTAR
PUSTAKA
Abu Su’ud, Islamologi, Sejarah, Ajaran,
dan Peranannya dalam Peradaban
Umat Manusia. Cet. I; Jakarta: Rineka
Cipta, 2003
Arif, Syamsuddin, Orientalisme dan
Diabolisme Pemikiran, Cet. I; Jakarta: Gema Insani, 2008
Esposito, John L, Ensiklopedi Oxford,
Dunia Islam Modern, Jilid IV (Cet. I; Bandung: Mizan, 2001
Husain, Adian, Hegemoni Kristen-Barat
dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi. Cet. I; Jakarta: Gema Insani, 2006
Januri, Muhammad Fauzan, dkk, Dialog
Pemikiran Timur dan Barat. Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 2011 Mahmud, Nasir,
Orientalisme, Alquran di Mata Barat, Sebuah Studi Evaluatif.
Cet. I; Semarang: Dina Utama Semarang,
T.th Schumann, Olaf, Agama dan Dialog Antar Peradaban, Cet. I; Paramadina,
Jakarta, 1996
https://media.neliti.com/media/publications/285438-kajian-hukum-islam-perspektif-orientalis-ff29c943.pdf
https://anshorylubis.blogspot.com/2018/05/periodesasi-dan-motif-orientalisme.html
No comments :
Post a Comment